David Efendi
Beberapa tahun silam saya biasa membaca pojok kompas dan juga kartun di Kompas setiap terbit karena di kantor berlangganan. Seolah urusan politik itu isinya bisa sandiwara dan guyon santai saja. Tetapi kalau baca semua berita tentu kepala pening dan nafsu makan nambah akhirnya kegemukan. Itu resiko konsumen berita politik di Indonesia. Karena itu, redaksi dan pemimpin umum harian Kompas, KR, atau Jawa Pos punya trik tersendiri agar pembaca juga diberikan antidote dari virus berita yang membingungkan.
“HAHAHAHA… ,...HIHIHIHI”. Dalam perpektif ilmiah dan kesehatan, konon tertawa itu selain sehat juga menyenangkan. Iya bukan? Alkisah (karena aku tidak tahu referensinya dan cara pembuktiannya), saat kita tertawa, kita melibatkan 15 otot wajah dan lebih dari 80 otot di seluruh tubuh kita. Pada saat tertawa itu tubuh kita secara otomatis mengeluarkan zat endofrin yang membuat kita merasa nyaman dan tenang, dan hormon dopamin lah yang membuat kita merasa bahagia.
Tahun 1999 Kompas menerbitkan kumpulan tulisan judulnya "Pemilu yang rileks" walau aku juga merasakan bacaan itu masih terlampau serius dan menambah pening. Tapi saya sangat apresiasi maksud penerbitan sebab pemilu Orde Baru memang sering membuat gak bisa tidur. Akhirnya aku pun lebih suka baca buku komik yang diterbitkan oleh Kompas--Kartun Benny and Mice. Rasanya memang lebih rilex dan bisa senyum-senyum sendiri. Pada tahun 1998 ada buku yang asik dibaca, buku itu tulisan Emha alias Cak Nun yang diberikan judul "Demokrasi Tolol versi Saridin." Disitu dalam pengantarnya disebutkan oleh Cak Nun bahwa rasah humor dan ketawa itu bisa menjadi antidote atau tolak balak santet. Karena itulah saya perlu menulis ini agar wong cilik tidak gampang kena santet politik tetapi sebaliknya politisi itulah yang cepat 'mati' karena korupsi terlalu serius dan bekerja keras untuk membangun kerajaan golongan sendiri.
Pemilu nasional atau pemilu lokal, sampai sekarang hampir tidak pernah membuat orang benar-benar rileks dan bahkan selalu sulit tidur kalau mau ada pemilu. Kenapa? karena dia tidak tahu betapa rumitnya hidup sehari-hari ditambah berita black campaign dan politik saling mengklaim dukungan. Ada yang bilang ke saya: "lihat orang hilir mudik bawa kalender, poster kandidat, sirahku wis ngelu." itulah betapa pemilu sangat tidak membahagiakan wong cilik. Ada juga yang bahagia kalau pas dapat rizeki tiban serangan fajar. Tetapi seringkali nuraninya terbakar akibat banyaknya yang mengazih padahal mereka harus mencoblos satu saja dari sekian kandidat. "Ben adil yo tak coblos kabeh, suara rusak dudu urusanku." Itu salah satu jawaban yang bukan hanya saya yang mendengar. Itulah cara membunuh frustasi dan rasa bersalah ala kawulo alit.
Menjelang tahun 2009, ada lagu yang menarik yang juga bisa menjadi obat penawar racun pemilu. Lagu ini dikarang oleh Genk Kobra, bunyinya begini:
Jamane tambah aneh
Gambare tambah akeh
Milih siji opo milih kabeh?
Sing gede soyo dumeh
Sing cilik tambah nyleneh
Paling enak golek oleh-oleh
Kelire reno-reno
Ono sing ora cetho
Ora seneng ora opo opo
Gayane bedo-bedo
Ojo keliru ndak gelo
Asal manteb atine wis lego
Itu bagi saya adalah nyanyian yang santai dan tanpa menimbulkan rasa susah tidur dan doyan makan. Jika doyan makan kumat, uang terbatas bisa repot sehingga memang saatnya kita mencari obat anti gila yang pas. Nyanyian, ketoprak, jagongan, nongkrong, dirasa lebih manusiawi ketimbang duduk berjam-berjam di depan layar TV menunggu pengamat politik mencari solusi yang ternyata justru memperkeruh otak kita. Ini bukan ajakan apatis berpolitik tetapi dalam rangka mencari obat waras.
Awalnya saya tidak merasa lagu genk kobra itu tentang pemilu yang makin rumit, sistem pemilihan yang tidak gampang, habis nyoblos jadi nyontreng, kalau dulu hanya memilih anggota DPR kini memilih presiden, gubernur, bupati, caleg DPR DPRD, dan DPD. Banyak yang mumet, bukan hanya pemilihnya yang pusing gambar mana yang dicoblos, foto siapa yang harus dicontreng kalau jumlah partai puluhan, jumlah kandidat juga puluhan. STREZZ.
Tapi stress ini harus berakhir. Bagaimana caranya? semoga tidak meningkatkan kriminalitas di Kota. Santai saja, santai artinya hidup tidak harus bergantung kepada partai politik dan politisi. Santai artinya milih gak milih tetap bisa ketawa. Santai artinya, biarkan tim sukses pemilu menggongong kita tetap guyu bareng.
Kalau kita singgah di Jogja sepekan saja betapa banyak orang ketawa dan bermain kata-kata yang menjamin umur anda lebih panjang sedikit. Dunia hitam politik di dalam masyarakat ketoprak Yogyakarta mereka jadi lucu dan saru kadang-kadang. Politisi bisa jadi bulan-bulanan oleh pemain ketoprak dan para tukang dagel. Stand up komedi di Jogja ada dimana-mana tidak hanya di ruang teater. Kalau ngobrol sama orang-orang kanan kiri jalan pasti anda bahagia di Jogjakarta. Sekali-kali coba ngobrol di angkringan tentu ilmu baru untuk bisa mengetawakan diri sendiri pun tidak sulit apalagi mentertawakan politik dan politisi. Kata SBY saja banyak banget diplesetkan apalagi kelakuan Ruhut si Tumpul. SBY= susah banget ya diajari; SBY; sumber bencana Yogyakarta; SBY: Susilo Bambang Nyudonyowo; dll. Saya tidak bisa panjang cerita disini datang sajalah ke Jogja dan dapatkan Joke-jokes segar yang membuatmu nyenyak tidur!
Kalau ada hiruk pikuk politik, para politisi berebut ladang dan duit, kita wong cilik tidak perlu merindukan bulan. Karena politik itu masih kotor, politisi masih penjahat kita tertawakan saja mereka. Kita tertawa karena kita masih waras, bukan karena mereka lucu dan kentir. Menertawakan politik dan politisi tidak dilarang karena fatwa MUI belum melarang dan RUU tentang ketawa di ruang publik belum dibahas. Ayo tertawa sebelum tertawa itu HARAM.
No comments:
Post a Comment