David Efendi
Melanjutkan artikel sebelumnya tentang genealogis dan berbagai praktik empirik 'everyday
politics' yang secara sadara atau tidak sadar kita sering menemukannya dalam
kehidupan sehari-hari. Justru karena seringnya ekspresi ini sebagai suatu
feneomena umum maka kita nyaris kehilangan perhatian terhadap dinamika ini. Ada
sedikit banyak pendapat bahwa genre ini masuk sebagai antropologi, atau
socilogy dengan ethnografinya. Tetapi saya lebih asik kalau fenomena ini
menjadi kajian multi disiplin dna bisa dilihat dari berbagai sudut pandang.
Inilah ilmu yang sangat dinamis, kajian yang sangat menarik untuk memahami
diri, kelompok, dan gerakan sosial budaya dan politik yang ada di dekat kita.
Kali ini saya
mencoba mengkaji tentang hal-hal apa saja yang bisa menjadi atau yang merupakan
irisan, gabungan, atau potongan dari everyday politik dan bagaimana prospeknya
ini menjadi suatu gerakan yang mempunyai daya ubah dalam kebijakan dan
diskursus meantream politik. Setidaknya ada empat hal yang mempunyai kaitan dan
potensi bertemu (irisan) dengan praktik everyday politics yang sedang kita
kaji. Pertama, adalah symbolic resistance. Kedua adalah subaltern group atau
marginalized people. Ketiga, adalah modal social dan kultural (socio-cultural
capital). Dan terakhir adalah konvensional politik (official and advocacy
politics).
Hubungan antara
everyday politik dan jenis politik lainnya dapat terjadi dalam suatu site yang
dapat kita mengerti dan walau sering hubungan ini kadang overlapping yang
kadang justru menengelamkan peran[peran everyday politics. Hegemoni
konvensional adalah seperti hegemoni jaat besar atas jagat kecil, atau seperti
hulu dan hilir, atau dalam bahasa yang lebih keren yang dikenal dengan great
tradition small tradition. Namun disisi lain, kajian atau interpretasi
atas everyday politik dapat menjawab beberapa pertanyaan yang dalam kedangkalan
politik konvensional (surface politics) tidak kentara dan kajian ini menawarkan
kajian mendalam dan detail berdasarkan pengalaman empirik (deep
interpretation). Karena itu terlebih dahulu kita uraikan satu persatu faktor
yang sering terkait dan dikaitkan dengan everyday politics.
1. Perlawanan
Simbolik (Symbolic Resistance)
Dalam hal ini
sudah dimaklumi banyak ilmuwan yang mengkaji hal serupa bahwa everyday politik
sering bersingungan dengan perlawanan simbolik. Dalam karya-karya James Scott
dan Benedic Kekvliet kita menemukan bahwa relasi itu sangat dekat dan rapat.
Tingkah laku simbolik yang tidak langsung itu bagian dari sikap dna karakter
masyarakat yang mempunyai bahasa-bahasa khusus menghadapi pihak yang secara
hukum mempunyai 'kekuasaan lebih'.
2. Kelompok
Marginal (Subaltern Voices)
Kelompok
marginal mendapatkan perhatian yang sangat serius dalam era demokrasi liberal
dimana hak individu dan hak asasi manusia menempati posisi yang sangat
strategis. Seolah stereotip bahwa negara yang tidak demokratis itu kerap dan
potensial melakukan pelanggaran terhadap HAM. Label itu terus dikontestasikan
sebab demokrasi liberal yang diboncengi oleh kapitalisme itu tidak kalah sadis
dan ganas melahap yang namanya kebebasan dan supremasi sipil. Terlepas dari
itu, definisi "marginalized" groups pun terus berubah sebagai
definisi yang sangat politis. Kelemahan kaum marginal itu lalu memunculkan
bentuk perlawanan yang tidak konfrontatif yang mempunyai ciri dan kesamaan
(potongan dan irisan) dengan perilaku everyday politik sebagai senjata kelompok
mayoritas (individu) dalam menghadapi situasi yang tidak menguntungkan dirinya.
Namun demikian, sejatinya everyday politik tidak mempunyai hubungan dengan
situasi termarginalkan atau tertindas namun bisa jadi pelaku everyday politik
adalah bagian dari kelompok itu. Perilaku gosip dan obrolan ringan tidak
membutuhkan wadah atau organisasi. Siapaun bisa melakukannya termasuk pemegang
kebijakan yang dia mempunyai atasan atau menghadapi situasi tertentu.
3. Modal Sosial
dan Modal Kultural (Social and Cultural Capital)
Adalah Boyte
(2005) yang menghubungkan everyday olitik dengan ketersediaan modal sosial
dalam masyarakat industri atau pasca industri. Kasus di Amerika digambarkan
oleh Boyte sebagai masyarakat berjejaring yang memungkinkan masyarakat
(citizen) andil dalam partisipasi pembangunan dan pelaksanaan serta pengawasan
kebijakan negara. Dalam banyak hal volutray organization ini mampu menyediakan
public goods yan tidak disediakan oleh negara. Kajian terkait peran besar modal
sosial dan civic culture tersebut sebenarnya jauh hari sudah dikaji oleh
Tacquivile, lalu dilanjutkan oleh Putnam, Fukuyama, dan seterusnya.
Modal sosial
dalam masyarakat yang "asli" seperti ethnik Jawa, madura, Sunda,
Bugis, dan lainnya mempunyai seperangkat sistem dan cara pandang yang dapat
membentuk dan mentransformasikan modal sosial dan budaya dalam praktik
interaksi sosial, termasuk ketika menghadapi kebijakan yang kurang berpihak
kepda masyarakat. Hal lain yang dilakukan oleh masyarakat adalah menggunakan
basis kohesi sosial sebagai alat untuk menyediakan kebutuhan bersama melalui
cara gotong royong, sanggahan, dan juga model sumbangan sukarela )volutary
charity) dalam berbagai upacara slametan.
4. Politik
Konvensional (Conventional Politics)
Eksistensi
everyday politik hari ini sering mengalami kontak dengan politik konvensional
sebagai konsekuensi integrasinya masyarakat adat kepada negara modern. Kalau
masyarakat adat tidak mengenal pemilu seperti demokrasi barat lalu harus
memilih pemimpinnya dengan cara dan prosedur yang sudah ditetapkan oleh negara.
Pemilu adalah salah satu site penting yang mempertemukan mayoritas masyarakat
(pelaku everyday politics) dengan politik kekuasaan dalam konsep Montesqueiu.
Selain itu, everday politik juga gampang dimobilisasi jika keadaan sudah
memungkinkan untuk bergabung dengan kelompok advokasi atau organisasi gerakan
sosial terkait isu tertentu yang nyata eksis dalam amsyarakat. Pertemuan ini
terjadi justru pada zaman demokrasi liberal sebab dalam rezim opresif everyday
politik seringkali bertahan dalam dunia aslinya: silent, inderect, dan tidak
terorganisir. Walau nyata, mereka butuh keluar dari keadaan dan situasi sulit terkait
persoalan ekonomi dan masa depannya.
Kesimpulan
EPR sebagai kajian
yang relatif baru tentu mencoba mencari bentuk dan posisi yang lebih layak
untuk dijadikan tempat kajian. Berbagai artikel disini adalah satu upaya untuk
bernegosiasi agar masyarakat memebrikan tempat untuk mengkaji secara mandiri.
Tentu saja dispilin kajian ini akan menyerempet kajian politik dan sosilogi
lainnya karena mereka mempunyai irisan dan potongan satu sama lain. Jadi, EPR
ini seringkali akan berhubungan dengan kebijakan, gerakan sosial, moal sosial
dan sebagainya sebagai jalan untuk membangun pemahaman baru melalui rantai
disiplin kajian yang sudah lebih dulu mapan. Inilah salah satu strategi untuk
memulai kajian baru kita. Mohon saran dan masukkanya.
No comments:
Post a Comment