Friday, March 9, 2012

Irisan dan Potongan "Everyday Politics"


David Efendi

Melanjutkan artikel sebelumnya tentang genealogis dan berbagai praktik empirik 'everyday politics' yang secara sadara atau tidak sadar kita sering menemukannya dalam kehidupan sehari-hari. Justru karena seringnya ekspresi ini sebagai suatu feneomena umum maka kita nyaris kehilangan perhatian terhadap dinamika ini. Ada sedikit banyak pendapat bahwa genre ini masuk sebagai antropologi, atau socilogy dengan ethnografinya. Tetapi saya lebih asik kalau fenomena ini menjadi kajian multi disiplin dna bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Inilah ilmu yang sangat dinamis, kajian yang sangat menarik untuk memahami diri, kelompok, dan gerakan sosial budaya dan politik yang ada di dekat kita.

The Power of Everyday Politics: Pelajaran dari Beberapa Kasus


David Efendi

DavidEfendi/Doc
Definisi mengenai apa yang saya maksud sebagai everyday politik tidak perlu saya ulang lagi disini dan bisa mengacu pada artikel saya sebelumnya. Kata kunci dari everyday politik, minimal sudah dipahami, yaitu inderect (tidak langsung) dan unorganized (tidak terorganisir). Jika mereka mendukung atau tidak suatu kebijakan dan proyek pembangunan mereka tidak mempertunjukkan dalam ekpresinya kepada penguasa (pemegang otoritas negara dalam konsep Weberian). Namun mereka sangat mudah dipahami oleh orang sekelilingnya dan orang dekatnya lantaran expresi itu bukanlah suatu yang asing dalam masyarakat. Sesekali pengambil kebijakan tahu makna gerak dan bahasa mereka tetapi acuh.

Nyanyian dan Puisi Sebagai Ekpresi "Everyday Politics"


David Efendi

Terlepas pemahaman kita yang berbeda tentang arti politik saya mencoba membicarakan tentang arti politik yang bukan merupakan pemahaman kebanyakan orang atau akademisi pengkaji politik. Jika politik dipahamai sebagai siapa mendapatkan apa dan bagaimana caranya? ini merupakan makna politik yang sangat universal dan abstract namun disini lain pengertian ini melegitimasi pemahaman kita bahwa kekuasaan itu milik siapa saja, kekuatan untuk makar dan melawan itu bisa muncul dari individu dan kelompok tertentu. Pengertian politik Laswell ini sedikit banyak membantu kita memahami dinamika everyday politics.


Benedict kervliet (1984, 2010) dengan tegas membedakan locus kajian everyday politik dengan tipe politik lainnya. Ada tipe jenis lain selaian everyday politik yaitu jenis kelamin politik yang sering membuat kita pusing dan pening yaitu official politik (executive, legislative, dan legislative ala Trias Politica Paman Montesquieu), dan yang kedua adalah bentuk politik advokasi yang dipelopori oleh organisasi civil society atau NGO. Sementara James Scott (1978) lebih memberikan penekanan pada everyday

Politik Sehari-hari: Ringan dan Reflektif


David Efendi

1. Setahun lalu sempat terpikirkan apa yang ditulis oleh Bill Liddle dan Saiful Mujani terkait Indonesia sebagai Masyarakat islam tetapi demokrasinya sekuler. Hal ini merambah pada keyakinan lainnya bahwa Indonesia ini bukan negara agama tetapi masyarakatnya 100% bisa dikatakan memeluk agama dan kepercayaan tetapi ideologi pasarnya liberal dan kapitalis, masyarakatnya materialis, pejabatnya terjangkiri kleptokratis.

Jalan Menuju Revolusi Peradaban Sampai di Wall Street, USA


David Efendi, Pengikut Tarikat Online


"Apa saja yang terjadi akhir-akhir ini adalah tepat dalam skenario-Nya. Hanya kita tidak atau sedikit mengerti. Inilah buah ajaran Cokro Manggilingan" (Tarikat Online, Ki Daud Jogo Samudro).

Menulis catatan kecil ini, telah mengorbankan jam tidur dan santai di hari minggu. Selain itu juga menggagalkan acara makan malam dan minum kopi sambil membaca dan membolak-balik halaman buku yang sudah lebih dari 70 aku pinjam bulan lalu. Ini sudah Oktober. Kalau dihitung ini sudah hampir tiga pekan protes di Wall Street berlangsung (semenjak 17 September-3 October 2011).

Thursday, March 8, 2012

Dua Benua, Dua Diktator dan Satu "Ethnograper"


David "Dave" Efendi

Kita adalah 99% dari anak bangsa yang BELUM kehilangan akal waras dan budi mulia. Kita adalah anak bangsa banyaknya 99% yang masih percaya akan keberadaan KPK memusuhi Iblis dan setan koruptor. Kita adalah 99% dari masa depan bangsa. Hanya 1% yang anti KPK itu bukan bangsa putih, itu dragula yang jumlahnya tak seberapa. Hanya 1% yang sedang melawan kebenaran. mahluk 1% itu tidak sulit kita binasakan hanya mereka bertuhan uang dan bernabi koruptor. Partai apakah ini? Mari kita hancurbinasakan dengan jalan yang damai!" (Status FB 3 Okt/11).

Perihal "Otonomi" Daerah


David Efendi

Ketika projek otonomi daerah gagal, projet federalisasi mulai?

Terlintas ingin mendiskusikan perihal 'otonomi' setelah sekian lama saya mencoba absen dari apa yang disebut oleh profesor saya, Ben Kervliet sebagai official politics atau conventional politic yang berurusan dengan birokrasi, tata pemerintahan, dan berbagai piranti hukum yang dibuat. Politik konvensional selain an sich politik formal adalah juga bentuk-bentuk politik advokasi sementara everyday politics menempati kategori ketiga yang seirng luput dari perhatian publik secara luas (Kervliet 2010). Karena itu saya, selain berguru dengan James Scott mengenai Hidden trancript, every resistance, dan moral economy, saya juga senang nyantri secara private dengan profesor Ben Kervliet untuk kitab politik keseharian. Kategori ilmu ini mungkin bisa dikatakan sebagai antropologi politik. Pak Ben kedua setelah Ben Anderson ini sudah pensiun ketika saya masuk University of Hawaii, jadi sementara private menjadi pilihan baik secara online atau in person.

Demonstran Terus Menggelinding: Sedikit Pencerahan Tentang Wall Street Protest


David Efendi

Sepulang dari kelas Social Movement terasa banyak hal yang harus ditulis, tetapi karena capek kemampuan tidak sebanding dengan keinginan untuk menulis. Tetapi sesingkat-singkatnya akan saya sampaikan kepada para pembaca note-note ini. 

Pertama perlawanan para protester (demonstran) adalah perlawanan yang dalam batas tertentu tidak seimbang. Sebagaimana kita mafhum, begitu juga prof Steinoff, bahwa Wall Street adalah industri uang terbesar di muka bumi, pengendali uang semesta alam yang didalamnya juga penuh kejahatan, korupsi, dan manipulasi angka. Uang mereka banyak, sementara demonstran hanya mengandalkan donasi dan voluntary organization atau relawan kecil. Jika demonstrasi ini berhasil emngubah, maka uang bukanlah segala-galanya dalam dunia ini. Inilah pertaruhan manusia dengan tuhan 'keuangan yang maha perkasa'. 

Setengah Abad "Demokrasi Kita"


David Efendi

"Demokrasi Kita" adalah mahakarya seorang pemikir Indonesia, Muhammad Hatta dimana sikap perjuangan dan karakternya tumbuh di era kolonialisme dan imperalisme. kekayaan bacaan dan permenungannya menjadikan demokrasi yang digagasnya jauh dari huru-hara propaganda sebagaimana kaum nasionalis lainnya yang seringkali mengedepankan kekerasan fisik. Dalam batas tertentu dia membenarkan bahwa nasionalisme adalah gerakan politik dirangkai dari imajinasi individu-individu yang mempunyai sesuatu yang sama (sejarah, nasib, dan tradisi). Di sisi lain, Hatta seolah tidak rela melihat banyak orang mati sia-sia atas nama nasionalisme. Dia bereseberangan dengan nasionalisme yang disempitkan denagan sentralisasi kekuasaan (baca: autoritarian), dengan kata lain dia sangat 'anti' terhadap gagasan demokrasi terpimpin ala Sukarno.

Indonesia Bergeming?


David Efendi


Kata Indonesia di dalam judul sebagai penekanan bahwa negeri ini masih berbentuk republik dimana kedaulatan mutlak berada ditangan rakyat, paling tidak, konstitusi mengatakan demikian (Pasal 1 UUD 1945). Kata Indonesia, selain menjadi 'kesadaran' kebangsaan kita sebagai bagian dari Indonesia, setidaknya harapan bersama adalah bahwa kata Indonesia itu masih ada dalam ide dan pikiran rakyat.

Beberapa Hipotesis tentang INDONESIA


David Efendi

Beberapa asumsi, hipotesis atau 'thesis' dapat kita formulakan sekaligus kalkulasi kemungkinan, peluang, dan kelemahan argumentasi di dalamnya dalam menjawab satu persoalan: Apa dan Bagaimana Indonesia dapat tetap bertahan sebagai negara kesatuan dan mengapa  tidak?

Stop! Liberalisasi Pendidikan


David Efendi

ASET bangsa yang berupa pendidikan adalah aset yang kira-kira disebut penghuni terakhir bangsa ini. Setelah kebijakan liberalisasi ekonomi marak dilakukan semenjak Orde Baru sampai sekarang. Kini aset bangsa yang paling berharga ini sedang berada di ujung tanduk. Serius, benar-benar under attack.

Puasa dan Gerakan Anti Imperealisme Kerakusan


David Efendi

”I have lost three kgs but I am getting energy from my supporters across the country.
The countrymen should not lose this spirit, this is our fight against corruption.”
 Anna Hazare


Dari banyak catatan sejarah kita bisa melihat bagaimana 'puasa' sebagai ritual keagamaan dijadikan media untuk mengeskpresikan perlawanan terhadap penjajahan. Tradisi puasa sebenarnya tidak hanya monopoli agama tertentu, namun penggalan sejarah membuktikan bahwa puasa dapat meningkatkan dan membangkitkan solidaritas rakyat untuk bangkit melawan berbagai bentuk imperealisme, kolonialisme, termasuk melawan rejim diktator dan juga penguasa korup. Titik sejarah itu paling kuat dapat kita saksikan dalam sejarah Islam, India, dan beberapa bagian ada di Indonesia. Untuk lebih detail mari kita tengok satu persatu.

"Endorsement Battle" dan Politik Doa Restu


David Efendi

"Dia (Si Fulan) adalah satriya Piningit...hadir di saat yang dinanti-nanti"
(Ki Gendeng Raja Sejagat, contoh endorsement)

Pagi ini habis sarapan pagi, karena malas beraktifitas, saya lalu menonton TV di lounge lantai 3. Seperti biasa saya merasa seru dan semangat kalau lihat pembicaraan politik di stasiun televisi FOX milik geng partai republik. Kritikan pedas dan gak kepalang tanggung selalu muncul metani semua keslahan dan kekurangan pemerintah Obama. Tv ini,kKalau disetarakan di Indonesia FOX ini mirip Metro TV ketika mengkritik pemerintahan SBY. Keduanya adalah penyalur adrenalin "oposisi" dengan jalan membangun opini publik melalui media.

Membaca itu Melawan



Selain membaca itu untuk memotivasi diri dan orang lain manfaat lainm dari membaca adalah upaya keras dan kuat untuk melawan ketertinggalan, kebodohan, penindasan dan kefakirmiskinan yang melanda diri, keluarga, masyarakat dan bangsa kita. Bagi penulis, kekayaan bangsa bukan hanya berapa besar jumlah devisa, seberapa besar pulau, sebarapa banyak propinsi, atau seberapa besar sumber minyak yang terkandung di dalam perut bumi negeri ini. Melainkan seberapa besar hasrat masyarakat mencintai buku bacaan, seberapa ramai perpustakaan dibangun dan dikunjungi orang. Ini hanyalah mimpi karena sampai sekarang perpustakaan yang besar tetap kalah ramai dengan swalayan yang paling kecil di kecamatan. Apalagi membandingkan keramaian perpustakaan dengan careffour atau matahari mall. Ini sudah kesenjangan yang luar biasa sampai pada kesimpulan, meminjam bahasa taufiq Ismail, telah terjadi "tragedi nol baca"!

Menertawakan Politik dan Diri Sendiri


David Efendi

Beberapa tahun silam saya biasa membaca pojok kompas dan juga kartun di Kompas setiap terbit karena di kantor berlangganan. Seolah urusan politik itu isinya bisa sandiwara dan guyon santai saja. Tetapi kalau baca semua berita tentu kepala pening dan nafsu makan nambah akhirnya kegemukan. Itu resiko konsumen berita politik di Indonesia. Karena itu, redaksi dan pemimpin umum harian Kompas, KR, atau Jawa Pos punya trik tersendiri agar pembaca juga diberikan antidote dari virus berita yang membingungkan.

Daulat Uang, Daulat Tuan vs Daulat Rakyat


David Efendi

"Kedaulatan adalah ditangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Madjelis Permusjawaratan Rakyat." 
 ---UUD 1945 Pasal 1(2)

Menurut W.S Rendra (1998) salah satu sebab kebobrokan bangsa ini adalah karena bangsa ini lebih cenderung mengutamakan daulat tuan dari pada daulat rakyat. Daulat tuan adalah pemerintahan yang lebih mengedepankan ambisi penguasa yang atas nama konstitusi dan pemilihan umum memberlakukan berbagai ebijakan yang membunuh rakyat secara perlahan tetapi pasti. Salah satu ciri daulatn tuan adalah ethos kerja ABS (Asal Bapak Senang) atau Asal Bos senang. Perilaku ini tidak berubah sampai hari ini yang kita bisa ikuti bagaimana kasus korupsi Bank Century, Gayus, dan Wisma atlit yang saling menyandra dan saling melindungi bos dan atasanya.

Zaman "Kesimpangsiuran"


David Efendi
Fenomena alam yang ditunjukkan dengan berbagai jenis 'bencana alam' adalah disinyalir oleh banyak orang sebagai dampak ikutan dari gejala kerusakan cara berfikir manusia memandang alam, memandang manusia itu sendiri. Bencana datang di saat kapitalisme mencapai titik klimaks. Tidak heran, ulat bulu pun mengguncang ibu kota pusat pemerintahan kapitalis Indonesia. Tidak hanya fenomena bencana, berbagai fenomena lainnya seperti fenomena Nurdin Halid, fenomena keistimewaan Yogyakarta, 'legalisasi' korupsi, pengemplangan pajak, menghotelkan penjarah, statemen politisi yang dangkal dan innocent, wisata bui ala gayus, istigasah menjelang UN, Bentrok warga dan polisi, membaca takbir sebelum bunuh diri atau menghabisi nyawa orang lain akhir-akhir ini di tanah air, dan masih banyak lagi 'kegilaan' dan kesalahan berfikir dan bertindak lainnya. Ini bukan fenomena alam biasa, ini sudah menjadi sebuah absurditas jika seorang mimpi meniadakan fenomena manusia Indonesia tersebut. Ini adalah lebih dari dalang edan akhir zaman, tetapi sebuah kesimpangsiuran cara berfikir. Otak sudah kram, dan nafsu yang menggangtikan bagaimana otak itu harus dioperasikan.

Adegan Politik Yang Membosankan

April 9, 2011

David Efendi

Ini bagia dari testimoni pribadi yang tentu bukan dimaksudkan sebagai pemikiran politik ala pengamat politik juga bukan dimaksudkan untuk menandingi karya hebat Gramsci dalam penjarah yang beratus-ratus halaman tebalnya. Ini adalah catatan keprihatinan secara pribadi atas berbagai kejanggalan, paradok, malpracktik, atau misderection dalam jagat politik kita yang disuguhkan oleh politisi, pengambil kebijakan, yang diekspos media setiap detik setiap waktu. Orang sering complain betapa buruk muka cermin dibela sebagai bagian dari kehidupan politik atau istilah

Iman: Belok Kiri Jalan Terus!


David Efendi

Saya tidak tahu pasti apakah pembaca bisa menerka apa yang hendak penulis sampaikan dalam note sederhana ini. Bagi pembaca Marx atau teori social revolusioner istilah kanan dan kiri menjadi kata kunci label seseorang atau group tertentu. Beberapa dekade setelahnya banyak muncul generasi baru yang dinamakan tengah atau moderat, ada juga kiri baru, kanan baru, kanan-kanan dan seterusnya sampai menemukan titik estrem kanan dan ekstrim kiri. Orang mengidentikkan kanan sebagai kebaikan atau sisi kemalaikatan sementara kiri sebagai keburukan atau sisi iblis yang melekat pada jiwa manusia dan perilakunya.